1,3 Juta Data Penduduk Indonesia Pengguna Aplikasi eHAC diduga Mengalami Kebocoran

1,3 Juta Data Pengguna Aplikasi eHAC diduga Mengalami Kebocoran

by DapurTeknologi

Lagi lagi data penduduk indonesia mengalami kebocoran, di duga kuat ke bocoran data tersebut berasal dari aplikasi buatan pemerintah Electronic Health Alert (eHAC). Beredar bahwa ada 1,3 juta data penduduk indonesia yang mengalami kebocoran.

Sampai saat ini Kominfo masih menginvestigasi asal-usul kebocoran data pada aplikasi eHAC.

Baca Juga :

VPN Mentor, situs yang fokus pada keamanan Virtual Private Network. Telah memberitahu bahwa adanya dugaan kebocoran 1,3 juta data pengguna pada eHAC.

eHAC adalah aplikasi yang di buat oleh Kementerian Kesehatan yang bertujuan sebagai alat penelusuran kepada orang-orang yang datang ke Indonesia di masa pandemi Covid-19.

VPN Mentor menyampaikan kebocoran data ini dapat berdampak luas terhadap pengguna eHAC dan pemerintah Indonesia.

Kementerian Kesehatan meminta masyarakat untuk segera menghapus aplikasi Electronic Health Alert (eHAC) versi lama dari handphone. Pasalnya, Kemenkes mengatakan dugaan kebocoran data masyarakat berasal dari aplikasi eHAC lama.

Kementerian Kesehatan meminta kepada masyarakat untuk menggunakan aplikasi Peduli Lindungi dan memanfaatkan fitur eHAC. Bahwa eHAC yang ada di aplikasi Peduli Lindungi terjamin pengamanannya.

Data pengguna yang bocor terjadi pada aplikasi eHAC Kementerian Kesehatan, bukan berasal Peduli Lindungi. Setelah eHAC Kemenkes tak di gunakan, pemerintah beralih pada eHAC yang tergabung dalam PeduliLindungi.

Dugaan Kebocoran Data eHAC

Dalam sebuah postingan laman website VPN Mentor, menyebut pihaknya menemukan data-data eHAC tanpa rintangan pada 15 Juli 2021. Menurut VPN Mentor, pembuatan aplikasi eHAC menggunakan database yang tidak di enskripsi dan tidak mempunyai keamanan yang rumit sehingga sangat mudah untuk diretas.

Baca Juga :  Kamu Wajib Install Aplikasi ini di iPhone

Kemudian pihak VPN Mentor menghubungi Kementerian Kesehatan Indonesia. Namun, Kemenkes tidak merespons.

VPN Mentor pun mencoba menghubungi Indonesia Computer Emergency Response Team. Kemenkes di hubungi lagi, namun tetap tidak memiliki respons.

“Sampai awal Agustus, kami belum menerima balasan dari pihak-pihak terkait. Kami mencoba menjangkau beberapa lembaga pemerintah lainnya, salah satunya BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) yang dibentuk guna menjalankan aktivitas-aktivitas di bidang keamanan siber. Kami menghubugi mereka pada 22 Agustus dan mereka membalas pada hari yang sama. Dua hari kemudian, pada 24 Agustus, servernya ditutup,” kitipan dari VPN Mentor.

Sumber : BBC.com

Related Posts

Leave a Comment

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Kami akan menganggap Anda setuju dengan ini. Setuju Read More

Privacy & Cookies Policy